Tradisi Lisan Pantang Larang Di Masyarakat Melayu Di Desa Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan

Pantang Larang, Tradisi, Perempuan Melayu

Penulis

  • Diana Agustina Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan
  • Nuriza Dora Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan

Kata Kunci:

Pantang Larang, Tradisi, Perempuan Melayu

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konteks di mana tradisi tersebut muncul lisan pantang larang suku melayu, fungsi kepercayaan atau pantang larang dalam masyarakat Melayu desa sampali, tradisi lisan pantang larang mengenai rumah dan pekerjaan rumah. Penulis menemukan terdapat tujuh ungkapan larang dalam masyarakat melayu desa sampali kecamatan pervut sei tuan. Peenelitian telah menggunakan metode deskriptif, berbentuk penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam Dalam konteks nilai kearifan lokal, saat ini masyarakat Melayu di Desa Sampali mempercayai tabang hara dan bukan mitologi. Pantangan dan larangan berpotensi membawa generasi masyarakat Desa Sampali menuju ke arah yang lebih baik dan terhormat.Beberapa pendapat dan kerabat masyarakat Desa Sampali berpendapat bahwa perawan adalah aib bagi keluarga, oleh karena itu pantangan dan peraturan terutama ditujukan kepada mereka.

Referensi

Resviya, R. (2020). Tradisi Kebidanan Bapala dan Dinamikanya pada Masyarakat Suku Dayak Bakumpai Kabupaten Barito Selatan Retas: Jurnal Ilmu Pendidikan, 7(1), 102.

Hanifah, N. dan Ahya, A.S.(2020). Kajian Antropologi Terhadap Tradisi Sedekah Desa di Lumbang (Petilasan Dhamarwulan) Desa Sudimoro Jombang. SASTRANESIA: Jurnal Kurikulum Bahasa dan Sastra Indonesia, 8(3), 176.

Syahrir, E. (2016). Ekspresi Tabu Maasyarakat Melayu di Beelantik Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra, 7(2), 238.

Kariadi, D. dan Suprapto, W. (2018).Tradisi Memaos sebagai sarana pendidikan untuk membangun jiwa keagamaan generasi muda. EDUDEENA: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(1), 99.

Amiir, A. (2013). Sastra lisan Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset

Hasim, R. (2018). Nilai kearifan lokal pantang dan larangan perawatan perawan di kecamatan Teluk Bintan Kabupaten Bintan. Arsip Universitas Maritim Raja Ali Haji, 68.

Riismawaty, R. dan Deria, N. (2020). Kegiatan Komunikasi Adat..Maulu di Desa Kemuja Bupati Mendo Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Jurnal Umum, 4(2), 220.

Saefudin. (2016). Anjuran dan larangan masyarakat Dayak Ha Long dalam lingkungan adat berdasarkan kearifan lokal. Multilingualisme, XV(2), 137.

Erwanto, K, Sulissusiawan, A, dan Susilowati, E. (2016). Pantangan dan Larangan pada .Masyarakat Melayu Kecamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas Hulu Menggunakan Penelitian Sosiolinguistik. Jurnal Khatulistiwa Pendidikan dan Pembelajaran (JPPK), 5(5).

Leoni, TD, dan Indrayatti, W. (2018). Cerita Rakyat dan Kepercayaan Masyarakat Melayu di Bintan. Majalah Mendaki Gunung, 6(2), 12

Diterbitkan

2024-01-08